Selasa, 3 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
51phone.net51phone.net
51phone.net - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Di Bandara, Sebelum Terbang: Jawaban soal Rasa Ber...

Di Bandara, Sebelum Terbang: Jawaban soal Rasa Bersalah Ninggalin Anak

Pertanyaan paling sering ditanya orang tua yang sering dinas: bagaimana mengelola rasa bersalah dan tetap dekat dengan anak dari jauh?

Di Bandara, Sebelum Terbang: Jawaban soal Rasa Bersalah Ninggalin Anak

Gue sering banget dapat DM dari teman-teman yang kerjaannya mobilitas tinggi — sales, kru produksi, konsultan, pramugari, siapa pun yang tiap bulan mesti naik pesawat atau keluar kota. Pertanyaannya hampir selalu sama: "Gimana caranya biar nggak ngerasa bersalah ninggalin anak?" Atau varian lainnya: "Anak gue jadi rewel tiap gue pergi. Normal nggak sih?"

Jadi daripada jawab satu-satu, gue tulis aja di sini. Ini bukan jawaban psikolog bersertifikat, ya. Ini murni dari pengalaman gue dan obrolan panjang sama beberapa teman yang sama-sama hidup dengan koper yang nggak pernah benar-benar kosong.

Rasa bersalah itu wajar, tapi jangan dibiarkan jadi bos

Pertama, gue mau jujur: rasa bersalah itu nggak akan hilang total. Sampai sekarang pun, tiap gue lihat anak gue nempel di pintu sambil bilang "Bunda jangan pergi", ada bagian di dada yang rasanya kayak diremas. Itu normal. Yang jadi masalah bukan rasa bersalahnya, tapi kalau rasa itu sampai bikin kamu jadi orang tua yang setengah-setengah — di kantor mikirin anak, di rumah mikirin kerjaan.

Baca juga: Jangan Tunggu Usaha Besar, Mulai Asuh Anak dengan 5 Langkah Ini

Ada satu kalimat dari teman gue yang nempel sampai sekarang: "Anak itu butuh orang tua yang hadir, bukan orang tua yang sempurna." Hadirnya nggak selalu soal durasi. Kadang soal kualitas. Kadang soal konsistensi. Dan itu yang bisa kita kejar, meskipun kita sering nggak di rumah.

Anak nggak menghitung berapa jam kamu di rumah. Anak mengingat bagaimana perasaan mereka saat kamu ada.

Pertanyaan yang paling sering muncul (dan jawaban jujurnya)

"Gimana biar anak nggak ngerasa ditinggal?"

Kuncinya bukan menyembunyikan kepergian, tapi membuat kepergian itu bisa diprediksi. Anak kecil, terutama di bawah 7 tahun, paling takut sama hal yang tiba-tiba. Kalau tiap Senin kamu pergi dan Jumat pulang, coba bikin ritual kecil: pelukan panjang sebelum berangkat, satu gambar yang kamu titipkan, atau voice note singkat yang mereka bisa dengar kapan saja. Yang penting, jangan pernah janji yang nggak bisa ditepati. Kalau bilang "Sabtu Bunda pulang", ya usahakan Sabtu. Kalau meleset, jelaskan. Anak bisa menerima kekecewaan, yang mereka nggak bisa terima itu janji yang bolong terus-terusan.

"Apakah video call tiap hari itu bagus?"

Tergantung. Video call bisa jadi penyelamat, tapi bisa juga jadi bumerang kalau caranya salah. Saran gue: jangan video call pas anak lagi main seru-serunya. Kamu bakal dapat anak yang setengah hati, dan kamu bakal ngerasa ditolak. Pilih waktu yang memang "waktu kita" — misalnya sebelum tidur, atau pas sarapan. Dan yang paling penting: jangan cuma nanya "Sudah makan?". Ceritakan hal spesifik. "Tadi Bunda lihat kucing oranye di bandara, mirip kucing kita ya." Anak butuh merasa kamu masih bagian dari dunia mereka, bukan cuma auditor yang menelepon buat laporan harian.

"Kalau anak jadi lebih dekat sama pengasuh atau neneknya, gimana?"

Ini pertanyaan yang paling sering bikin orang tua diam-diam sedih. Jawaban gue mungkin nggak populer: syukuri. Anak yang punya banyak figur aman itu anak yang beruntung. Kedekatan dengan pengasuh bukan berarti mereka menggantikan kamu. Ikatan anak itu nggak kayak gelas yang isinya cuma bisa diisi satu orang. Mereka bisa sayang banyak orang sekaligus. Yang perlu kamu pastikan: kamu tetap jadi tempat pulang yang aman, bukan cuma orang yang lewat sesekali.

Hal-hal kecil yang sering dilupakan orang tua yang sering bepergian

Ada beberapa hal praktis yang sering luput, dan menurut gue ini yang bikin beda:

  • Bikin "kotak kejutan" kecil. Sebelum pergi, siapkan beberapa catatan atau benda kecil yang bisa dibuka anak tiap hari kamu pergi. Nggak perlu mahal — stiker, gambar, atau kertas lipat udah cukup.
  • Libatkan anak dalam rencana perjalananmu. Tunjukkan peta, bilang kamu ke kota apa, berapa hari. Anak yang tahu akan merasa lebih tenang daripada anak yang cuma tahu "Bunda pergi lagi".
  • Jangan kompensasi rasa bersalah dengan barang. Ini jebakan klasik. Pulang bawa mainan terus-terusan bikin anak belajar bahwa kepergian = hadiah. Yang mereka butuhkan bukan itu.
  • Jaga ritual pulang. Misalnya, hari pertama pulang selalu masak bareng atau baca buku bareng. Ritual ini yang bikin anak punya sesuatu untuk ditunggu.
  • Jangan lupa pasangan atau pengasuh di rumah. Mereka juga capek. Kadang yang bikin keluarga retak bukan kepergianmu, tapi kelelahan yang nggak diakui.

Soal rasa bersalah yang nggak mau pergi

Gue nggak akan bilang "kelola rasa bersalahmu dengan baik" karena itu klise dan nggak membantu. Yang lebih jujur: terima aja rasa bersalahnya, tapi jangan biarkan itu jadi alasan buat menjauh. Kadang orang tua yang merasa bersalah malah jadi menghindar — nggak berani menelepon karena takut anak nangis, nggak berani pulang karena takut drama. Padahal justru kehadiran, sekecil apa pun, yang menyembuhkan.

Dan satu lagi yang sering gue ingat: anak itu nggak butuh orang tua yang selalu ada secara fisik. Mereka butuh orang tua yang bisa diandalkan secara emosional. Kamu bisa pergi jauh dan tetap jadi tempat mereka pulang. Kamu bisa sibuk dan tetap jadi orang pertama yang mereka cari saat sedih. Itu bukan hal yang saling bertentangan.

Jadi, buat kamu yang besok subuh harus ke bandara lagi dan malam ini diam-diam menatap anak yang tidur sambil mikir "apa gue orang tua yang egois?" — tarik napas. Kamu bukan egois. Kamu cuma sedang belajar jadi orang tua di kondisi yang nggak ideal. Dan itu, percaya deh, udah lebih dari cukup.

Tags: parenting jarak jauh dinas luar kota hubungan anak orang tua rasa bersalah orang tua tips mengasuh anak