Gue bukan tipe orang tua yang bisa duduk manis di rumah tiap hari. Pekerjaan gue menuntut gue terbang ke kota lain minimal dua kali sebulan, kadang lebih. Dan selama bertahun-tahun itu, gue belajar satu hal yang nggak pernah diajarin di seminar parenting mana pun: anak itu nggak butuh orang tua yang selalu ada secara fisik, tapi dia butuh orang tua yang selalu hadir secara emosional. Kedengarannya klise, tapi baru gue paham betul setelah lewat beberapa momen yang bikin gue ngerasa gagal.
Pertama Kali Ninggalin Anak, Gue Nangis di Bandara
Anak gue baru dua tahun waktu itu. Gue harus dinas seminggu ke Surabaya, dan gue inget banget gimana rasanya ngeliat dia melambai dari pangkuan ibunya sambil bengong, nggak ngerti kenapa bapaknya bawa koper besar. Gue nangis di ruang tunggu. Dramatis, iya. Tapi jujur, rasa bersalah itu nyata banget.
Yang bikin makin parah: selama seminggu itu, tiap video call, dia cuma lihat layar sebentar terus lari main. Gue ngerasa kayak orang asing. Pulang-pulang, dia malah lebih deket sama mbak yang jaga dia. Sakit? Iya. Tapi dari situ gue mulai sadar sesuatu.
Baca juga: Coba 5 Langkah Ini Buat Freelancer yang Baru Mulai Ngasuh Anak
Kehadiran itu bukan soal berapa jam kamu di rumah, tapi soal seberapa kuat kamu meninggalkan jejak di ingatannya.
Yang Gue Ubah: Bukan Nambah Waktu, Tapi Nambah Kualitas
Gue nggak bisa nambah hari libur. Kantor nggak segitu murah hatinya. Jadi gue ubah strateginya. Pertama, gue bikin ritual kecil sebelum berangkat. Sekarang, tiap mau dinas, gue selalu luangin 20-30 menit buat main sama dia tanpa gawai. Nggak ada HP, nggak ada laptop. Cuma gue, dia, dan mainan atau cerita. Kadang cuma duduk di lantai sambil nyusun balok. Tapi ritual ini jadi semacam "penanda" buat dia bahwa bapak pergi bukan karena nggak peduli.
Kedua, gue mulai ninggalin "surprise" kecil. Kadang gue selipin sticky note bergambar di kotak makan siangnya, atau titip satu buku cerita baru ke ibunya buat dibuka tiap malam selama gue pergi. Anak kecil itu makhluk visual. Dia nggak ngerti konsep "bapak dinas tiga hari", tapi dia ngerti kalau tiap malam ada cerita baru dari bapak.
Video Call yang Nggak Membosankan
Video call itu pedang bermata dua. Kalau salah cara, anak malah jadi rewel atau nggak peduli. Gue belajar dari kesalahan: jangan tanya "kangen nggak sama bapak?" karena jawabannya nggak akan pernah memuaskan. Mendingan gue ikut main. Kadang gue minta dia tunjukin mainan barunya, kadang gue baca cerita lewat telepon, kadang gue ikut "makan bareng" lewat layar. Ribet? Sedikit. Tapi hasilnya beda banget.
Ada satu momen yang nggak akan gue lupa. Waktu gue dinas di Makassar, anak gue (waktu itu udah empat tahun) tiba-tiba bilang lewat telepon, "Bapak, aku simpenin kue buat kamu." Kue itu udah basi waktu gue pulang. Tapi gue makan juga, sambil nahan air mata. Anak itu nggak butuh barang mahal. Dia butuh tahu bahwa bapaknya bakal balik.
Pelajaran soal Keluarga yang Sering Gue Lupakan
Gue nggak akan pura-pura jadi expert. Sampai sekarang gue masih sering salah. Masih sering lupa video call karena meeting molor. Masih sering pulang dalam keadaan capek dan malah jadi pemarah. Tapi ada beberapa hal yang akhirnya gue pegang teguh:
- Jangan minta anak "ngerti" — anak kecil nggak punya kapasitas buat memahami pekerjaan orang tuanya. Yang bisa kita lakuin adalah bikin dia ngerasa aman, bukan minta dia dewasa duluan.
- Libatkan pasangan atau pengasuh — gue nggak bisa ngurus semuanya sendiri. Komunikasi sama istri dan mbak yang jaga anak itu krusial. Mereka yang jaga rutinitas anak waktu gue pergi, jadi gue harus pastiin mereka tahu apa yang gue harapkan.
- Jangan kompensasi dengan barang — gue pernah beliin mainan mahal tiap pulang dinas. Hasilnya? Anak jadi ngarep oleh-oleh, bukan ngarep bapaknya. Sekarang gue stop. Gue ganti dengan waktu dan perhatian.
- Terima bahwa nggak semua momen bisa kamu hadiri — dan itu nggak bikin kamu jadi orang tua yang buruk. Yang bikin buruk adalah kalau kamu nggak pernah hadir sama sekali, meski cuma sebentar.
Ada satu hal lagi yang mungkin jarang dibahas: rasa bersalah itu nggak akan pernah hilang total. Sampai sekarang, tiap gue ngeliat anak gue nangis di pintu waktu gue mau berangkat, ada bagian dari diri gue yang pengen resign aja. Tapi gue juga sadar, gue kerja bukan cuma buat diri gue. Dan anak yang tumbuh dengan orang tua yang berusaha—meski nggak sempurna—itu tetap anak yang beruntung.
Kalau kamu sering bepergian dan punya anak kecil di rumah, saran gue cuma satu: jangan tunggu punya waktu banyak buat jadi orang tua yang "layak". Mulai dari 20 menit tanpa gawai, satu cerita sebelum berangkat, satu panggilan yang beneran fokus. Kecil, tapi jejaknya nempel. Dan buat anak, jejak itu yang dia bawa sampai besar.
Gue nggak tahu sampai kapan gue bakal terus dinas. Tapi gue tahu satu hal: anak gue bakal inget bapaknya bukan dari berapa lama dia pergi, tapi dari gimana caranya dia balik.